Los Angeles Diary (4): Belajar Advokasi ala Law School

13 October 2012 0 comments
Catatan ini harusnya sudah ditulis hari Kamis lalu. Pada hari itulah kami diundang untuk ikut kelas advokasi bagi anak berkebutuhan khusus. Kelas yang diampu Julie dan Jenny yang gagal ketemu kami di hari sebelumnya. Apa pentingnya ikut kuliah ini?

Suasana Kelas: Julie dan Jenny di depan, para 'pengacara' duduk melingkar.
Ada tiga alasan setidaknya mengapa kuliah ini penting: pertama, tema hari itu adalah anak bekebutuhan khusus, sama seperti para difabel; kedua, kelas saat isu sedang praktik, berupa simulasi, bagaimana para lawyer membela hak anak berkebutuhan khusus melalui "rapat dengar pendapat" dengan kepala sekolah dan pengawas sekolah. Saya sebenarnya tidak tahu hal ini sampai setelah kuliah mau bubar dan susana 'ruang sidang' berubah menjadi 'suasana kelas'.

Hari itu Jenny benar-benar seperti Pengawas Sekolah yang sangat keras. Mahasiswa pertama yang ditugasi untuk memberi surat pemberitahuan izin merekam sidang dengan pendapat lupa mengirimkan surat itu dan Jenny maupun Julie yang berperan kepala sekolah secara serius menolak. "According to the Law, we are not allowed to record unless you provided 24 hour notice." Titik. Di sinilah saya mengira Jenny itu benar-benar Pengawas Sekolah (saya belum kenalan dengan dia, tidak seperti Julie).

Nah, intinya, ada banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari simulasi pembelaan anak di sidang dengar pendapat itu. Di antaranya: (1) Kuatnya perlindungan terhadap hak individu di Amerika; (2) Lengkapnya supporting system yang menangani urusan-urusan seperti ini, baik aparatur negara maupun administrasi penanganannya; (3) Betapa jauhnya kita, sistem di negara kita kita dari semua yang mereka miliki di sini. Terfikir pun belum! 

Bayangkan, untuk kasus yang disimulasikan itu, kita melihat bahwa satu kasus anak di sebuah sekolah itu akan berurusan dengan psikolog sekolah, kepala sekolah, pengawas sekolah, hingga sistem pengadilan yang akan menyelesaikan kasus itu bila jalur non litigasi tidak bisa menyelesaikan. Dan jalur hukum bahkan malah yang kadang dipilih sebagai shortcut agar urusan-urusan di level sekeolah bisa diselesaikan lebih cepat karena akan ditangani lebih serius.

Lalu siapa yang membiayai proses advokasi itu? Tergantung, kalau dia keluarga kaya, ya sewa pengacara. kalau dia miskin, dia bisa minta bantuan gratis ke lembaga-lembaga seperti yang dimiliki oleh Law School, Children's Right Clinic.

Di luar proses advocacy sendiri, sebagai dosen, melalui simulasi yang kami saksikan hari itu, kami juga belajar tentang sebuah model pembelajaran yang luar biasa menarik dan mungkin perlu kami coba nanti di Indonesia.
Setelah kelas bubar, Prof. Julie menjelaskan lebih lanjut
kepada kami tentang 'sistem' yang berjalan di sini.

0 comments:

Post a Comment

 

©Copyright 2011 Kata Kita | TNB